Pengalaman Kuliah

Pengalaman Kuliah di Universitas Islam Darussalam: Dari Adaptasi hingga Menemukan Arah

Memulai perjalanan kuliah di Universitas Islam Darussalam ibarat melangkah ke dunia baru yang penuh persimpangan. Semester 1 datang sebagai babak pembuka—masa ketika saya belajar kembali mengenal diri sendiri. Lingkungan kampus yang asing, pola belajar yang berbeda, sampai ritme kuliah yang jauh lebih cair dibanding masa sekolah, membuat saya harus menata ulang cara berpikir. Saat itu, saya seperti benih yang baru dipindahkan ke tanah yang berbeda: perlu adaptasi, perlu menyesuaikan akar, dan perlu mencari arah tumbuh.

Hari-hari awal dipenuhi rasa kagok, mencari kelas yang kadang tersesat, mengenal dosen yang sebagian besar memiliki karakter unik, serta mulai memahami bagaimana menjadi mahasiswa yang tidak hanya duduk, mencatat, dan pulang. Perlahan, pertemanan tumbuh. Obrolan singkat seusai kuliah berubah menjadi diskusi ringan tentang tugas, hingga akhirnya jadi keluarga kecil yang menemani perjalanan akademik.

Menjelang akhir semester 1, saya mulai merasakan bahwa kuliah bukan sekadar datang dan mendengarkan. Ada ruang-ruang berproses yang memanggil. Saat itulah saya mulai bergabung di dua organisasi: Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) PAI sebagai organisasi intra kampus, dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi ekstra kampus. Dua ruang ini memperkenalkan saya pada dunia yang baru sama sekali—dunia diskusi, pengabdian, dan pertemanan yang lebih luas.

Masuk ke HMPS PAI membuat saya belajar memahami dinamika mahasiswa dalam lingkup program studi: bagaimana suara mahasiswa dikumpulkan, bagaimana kegiatan disusun, dan bagaimana rasa memiliki terhadap jurusan itu tumbuh sedikit demi sedikit. Sementara HMI memberikan ruang yang lebih luas—ruang untuk berpikir kritis, memperluas wawasan keislaman, serta melatih mental bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga peran sosial.

Memasuki semester 2, perjalanan menjadi semakin menarik. Tanggung jawab kuliah bertambah, organisasi semakin mengajarkan disiplin, dan saya mulai merasakan bahwa diri ini sedang ditempa. Waktu yang harus dibagi antara kelas, rapat, diskusi, dan istirahat menjadi latihan manajemen diri yang tidak pernah diajarkan secara formal. Di fase ini, saya belajar bahwa “mahasiswa” bukan hanya status, tetapi proses panjang untuk menjadi pribadi yang lebih matang.

Sampai akhirnya masuk semester 3, titik di mana adaptasi sudah berubah menjadi kenyamanan, dan kenyamanan berubah menjadi semangat untuk berkembang. Tugas kuliah semakin menantang, kegiatan organisasi semakin serius, dan saya mulai menemukan arah yang lebih jelas: bahwa kuliah di Universitas Islam Darussalam bukan hanya perjalanan mencari ijazah, tetapi perjalanan mengenal diri, memperbaiki niat, dan membangun kapasitas.

Kini, ketika menoleh ke belakang, perjalanan semester 1 hingga 3 terasa seperti tiga bab yang saling menyambung. Dari adaptasi, lalu berproses, hingga akhirnya memahami bahwa setiap fase memiliki hikmahnya sendiri. Universitas Islam Darussalam bukan hanya kampus tempat saya belajar, tetapi ladang tempat saya tumbuh—secara intelektual, sosial, dan spiritual.

Posting Komentar

0 Komentar